Menurut cerita nenek moyang Desa Babadan dihuni sejak jaman Kerajaan Islam Demak Bintora, Disitu belum ada desa. Masih hutan rimba dan hamparan sungai luas nan panjang, hamparan sungai luas nan panjang itu terkenal dengan sebutan Kedung Perahu.
Disuatu malam menjelang dini hari sekitar kisaran ± jam 3 Pagi, Ada rombongan saudagar melintas di Kedung Perahu, Bertepatan saat melintas di Kedung Perahu, saat itu di seberang sungai terdengar orang membunyikan lesung (alat menumbuk padi) saat terdengar bunyi- bunyi an serentak suara ayam bersautan, Sejenak kemudian serombongan saudagar itu panik & bingung karena adanya suara bunyi – bunyi an yang bersautan itu, karena saking paniknya 3 saudagar itu salah satunya menjatuhkan sumpah “Mulai saat ini dan seterusnya masyarakat sini yang perempuan akan banyak perawan tua”.
Dari situlah awal sejarah terjadinya atau terbentuknya Desa Babadan. Di kedung perahu itu perahu yang dijadikan alat transportasi ketiga saudagar itu bersandar, perahu yang di kendarai itu bernama Dampu Awang.
Seiring berjalannya waktu yang sudah pagi, maka ketiga saudagar itu perlabuh dan bermukim disitu, karena selain hamparan sungai panjang nan luas juga masih hutan rimba padat maka, hutan yang padat itu di Babat lah oleh mereka. Singkat cerita makanya dari hasil Babat alas itu maka di namakan Desa Babadan.
Seiring bergulirnya waktu siang dan malam maka hutan rimba nan padat juga hamparan Sungai luas nan panjang itu semakin Banyak penduduknya.
Sampai pada suatu ketika, salah seorang dari keluarga saudagar itu menikah dengan mbah budho. Yang bermukim di Sumur Wungu. Yang saat ini terkenal dengan makam mrungu. Nah di Sumur Wungu itu sepasang suami istri itu hidup rukun bahagia sejahtera, Dari hari ke hari bulan ke bulan mbah budho pekerjaannya berternak dan bercocok tanam.
Tiap pagi mbah budho selalu ke sawah pulang sore dan kumpul dengan keluarganya, terus tiap hari rutinitasnya selalu begitu.
Pada suatu saat mbah budho seperti biasanya tiap pagi berangkat ke sawah, namun pada beberapa saat kemudian tanpa ada kabar dahulu Adik mbah budho berkunjung ke Kediaman Mbah Budho, seperti biasa istri mbah budho tiap ada tamu dipersilahkan masuk dan segera dibikinkan minuman dan hidangan seadanya, namun setelah hidangan itu disuguhkan, Adik mbah budho minta jamuan yang lain, adik mbah budho meminta jamuan sari roso sontak kemudian istri mbah budho kaget Bukan kepalang dan bergegas masuk ke dalam kamar dan menutup pintu.
Adik mbah budho masih menunggu jamuan sampai dengan beberapa saat, namun istri mbah budho tak kunjung hadir membawa jamuan sari roso. Karena merasa tak dihiraukan dan tidak di hargai maka Adik Mbah Budho bergegas pergi tanpa permisi.
Sedangkan mbah budho yang baru saja sampai di sawah hatinya merasa tidak enak, maka mbah budho karena persaannya tidak enak maka bergegaslah mbah budho pulang. Sesampainya dirumah mbah budho tidak seperti biasanya. Biasanya tiap pulang dari sawah biasanya mbah budho segera disambut oleh sang istri dan dibawakan minuman hangat yang menyegarkan.
Namun kali ini istri mbah budho tetap menutup pintu di dalam kamar.
Maka segeralah mbah budho menghampiri sang istri. Sembari bingung dan heran mbah budho bertanya ada apa?
Sang istri sambil menangis sesenggukan menceritakan kedatangan adiknya. Sang istri pun cerita mulai kedatangannya sampai dibikinkan jamuan sampai dengan permintaan sang Adik meminta untuk dilayani layaknya suami istri.
Sedetik kemudian mbah budho yang merasa capek dan lelah dari sawah, bergegas mengambil tumbak dan mengejar sang adik.
Disisi yang lain sang adik mbah budho berjalan dengan sejuta kekecewaan dan umpatan, sang adik merasa tidak di hargai dan dihormati sebagai tamu dan maupun sebagai adik ipar. Perjalanan pulang sang adik dengan membawa penuh umpatan dan kekecewaan itu, sampai tidak menghiraukan kanan, kiri, sapaan saat berpapasan dengan orang lain, sampai pada saat ditengah pohon besar nan rindang adik mbah budho tidak terasa kalo di belakang adik mbah budho itu ada kakaknya.
Sedang mbah budho pada saat tau kalau didepannya itu adiknya, tanpa pikir panjang dan tanpa tegur sapa dulu, mbah budho langsung menghujankan tumbaknya ke punggung Sang Adik sampai menembus ke dada, sedetik kemudian sang adik bersimbah darah dan menengok ke belakang. Dan sang adikpun kaget bukan kepalang, ternyata dibelakang yang menikam itu adalah kakaknya sendiri yang disayangi dihormati dan dirindukan itu.
Sontak sang adik sambil menahan sakit dan membalikkan badan sembari bertanya “ Kenapa aku kau tobak mas ? “
Mbah budho dengan penuh emosi menjawab dengan berkata keras “ karena engkau berani kurang ajar”. Sang adikpun semakin kebingungan dan bertanya kurang ajar bagaimana ?
Mbah Budho pun makin marah dan berkata keras kenapa engkau meminta di layani sebagaimana layaknya suami istri ?
Sang adik pun menangis dan merasa sangat terpukul, sambil menangis sang adik cerita Ihwal kedatangannya, sampai pada saat sang istri Mbah Budho menghidangkan jamuan. Dan sang adik pun meminta jamuan adat, jamuan adat itu adalah “ Sari Roso “.
Sari Roso adalah kapur sirih komplit, sebagai jamuan adat yang sudah turun temurun.
Mbah Budho kaget luar biasa dan sangat merasa bersalah, melihat adiknya bersimbah darah maka Mbah Budho bergegas memeluk sang adik dan tombak yang tembus di dada adiknya, pada saat itu juga menghujam ke dada Mbah Budho, maka keduanya robohlah dibawah pohon besar nan rindang.
Disitu Mbah Budho dan sang adik menghembuskan nafas terakhir.
Maka Mbah Budho dimakamkan di Sumur Wungu yang saat ini terkenal dengan makam Mrungu.
Sepeninggal Mbah Budho, maka istri Mbah Budho nilap meninggalkan beban dengan hijrah ke selatan. Dari nilap dan meninggalkan beban itu maka istri Mbah Budho menamakan dusun yang ditempati itu dengan nama Dusun Nglaban.
Di dusun Nglaban itu istri Mbah Budho sakit – sakitan dan hidupnya kurang beruntung. Disuatu hari istri Mbah Budho datang ke orang pintar untuk menanyakan perihal kehidupannya. Dari situ istri Mbah Budho diberi petunjuk kalau ingin hidup sehat dan sejahtera istri Mbah Budho disuruh hijrah ke kulon kali.
Saat itu juga sepulang dari orang pintar itu istri Mbah Budha hijrah ke kulon kali.
Di kulon kali itu kehidupan sang istri Mbah Budho membaik, sakitnya dan tubuhnya yang penuh dengan gatal – gatal itu berangsur membaik.
Semakin lama kehidupan istri Mbah Budho semakin berkecukupan dan kesehatannya pun pulih seperti sedia kala maka, istri Mbah Budho menamakan tempat itu dengan nama Dusun Sugihwaras.
Dari situ istri Mbah Budho semakin mengembangkan berbagai hal, Sugihwaras pun makin berkembang dan bertambah penduduknya.
Pada saat yang lain Ki Demang Thahir yang berada di Dusun Babadan dan masih kerabat istri Mbah Budho mengembangkan lingkungannya.
Ki Demang Thahir babat tanah alas Babadan khususnya Termas dan Termas Malang.
Dari awal mulanya Termas dan Termas Malang keadaannya menurut Ki Demang Thahir keadaannya tenang dan tentram. Dalam membuka tanahnya dari bagian Termas di bagian timur, pernah berhenti sebentar. Pada waktu membuka alas malang karena yang tadinya merupakan alas yang bentuknya tidak karu – karuan, dan di pintu masuk bagian alas malang ditanami sebuah pohon atau kayu “ Songgo Langit “ dan itupun sering menjelma ular welang ( weling ).
Padepokan Ki Demang Thahir bertempat di depan makam ( yang saat ini terkenal dengan makam Kalongan ) disitulah pusaka Ki Demang Thahir berada, sampai sekarang pusaka itu masih ada, dan ada dua pusaka yaitu :
Dengan demikian antara Termas bagian timur dan Termas bagian barat yang lebih terkenal dengan sebutan Alas Malang, seakan – akan terpisah jadi dua bagian namun karena dua wilayah itu dalam mebuka lahan Ki Demang Thahir merasa nyaman dan tentram maka wilayah itu dijadikan satu dengan nama Dusun Termas. Setelah selesai babat Dusun Termas Ki Demang Thahir pindah kebagian utara.
Di wilayah utara dulu menemui banyak kendala karena disitu terkenal dengan hutan yang lebat dan pohonnya besar – besar, maka alat untuk menebang kayu saat itu sering tumpul, karena gaman yang dipakai untuk menebang kayu itu selalu di agar – agar ( saat ini terkenal ungkal / asah ) karena saat itu masyarakat sering bersamaan dalam agar – agar gaman ( mengasah gaman ) maka wilayah itu dinamakan Dusun Gareman.
Dari Gareman Ki Demang Thahir memperluas lagi ke utara, saat itu rumah penduduk masih arang – arang terpisah jauh, namun walau tertinggal penduduknya kurang mampu namun kerukunan dan kebersatuannya sangat kuat. Tiap mendirikan rumah orang disitu selalu kompak sak yek sak eko proyo.
Kekompakan, kebersatuan, kebersamaan, keutuhan yang kuat itulah gilig ( utuh ) menjadi satu maka wilayah itu dinamakan Dusun Gilig.
Disinilah terbentuknya Desa Babadan, Desa babadan dari sejarah tersebut diatas terbagi menjadi beberapa Dusun antara lain : Babadan, Nglaban, Sugihwaras, Termas, Gareman dan Gilig. Inilah sejarah kisah Babadan dan semoga Babadan menuju desa yang : Bersih Asri Berbudaya Aktif Dinamis Aman Nyaman.
Adapun pemimpin yang menjabat di Desa Babadan antara lain :
Secara administratif, Desa Babadan terletak di wilayah Kecamatan Patianrowo Kabupaten Nganjuk dengan posisi dibatasi oleh wilayah desa-desa tetangga. Di sebelah Utara berbatasan dengan Desa Bukur di sebelah Barat berbatasan dengan Desa Katerban Kecamatan Baron, di sisi Selatan berbatasan dengan Desa Garu Kecamatan Baron, sedangkan di sisi timur berbatasan dengan Desa Patianrowo.
Jarak tempuh Desa Babadan ke Kec. Patianrowo adalah 6 km, yang dapat ditempuh dengan waktu sekitar 15 menit dengan kendaraan bermotor. Sedangkan jarak tempuh ke ibu kota kabupaten Nganjuk adalah 27 km, yang dapat ditempuh dengan waktu sekitar 1 jam